Mengenai Saya

Foto saya
Hobby Travelling, Makan, Cita-Cita pengen kurus

Label

Sabtu, 29 Januari 2011

Mamat Gayoo..


Mamat Gayo, pria kelahiran Aceh 64 tahun silam. Ia adalah seorang Banpol di Jalan Suci, kesehariannya mengabdi pada masyarakat. Seseorang yang tidak mudah putus asa dalam mengemban tugas mulia, sebagai pengayom masyarakat.
Awalnya aku tak menyadari keberadaannya. Tubuhnya yang kecil sehingga hanya segelintir orang saja yang menyadari keberadaannya. Fisiknya yang tidak sempurna, tidak membuat ia malas justru sebaliknya, dengan sisa semangat juangnya ia mencari sesuap nasi untuk keluarganya menjadi Banpol. Dulu ia mampu memperbaiki barang-barang elektronik seperti kipas, televise, setrika, tetapi kini tidak lagi ia tekuni. Matanya kurang awas.
Kini ia menjadi Komandan Banpol dengan 5 anak buahnya. Cacat fisik tidak membuatnya malas. Saya sempat berbincang-bincang dengannya, ketika itu saya lihat Mamat sedang istirahat di warung kopi.
Dalam soal mendidik anak buah, Mamat tidak pernah pilih kasih. Rochmat, salah satu anak buahnya pernah di skors 6 bulan karena menyalahgunakan prosedur. Selama menjadi Banpol lebih dari 20 tahun, Mamat menceritakan keluh kesahnya. Ia menyenangi pekerjaannya, karena dengan begitu ia bisa mencari uang sendiri tanpa belas kasihan orang lain. Ia menyadari, fisiknya tidak sempurna akan sulit mencari pekerjaan dan akan direndahkan banyak orang. Mamat bangga menjadi Banpol, karena bisa membantu masyarakat sekitar agar selamat sampai tujuan. “alhamdullilah, kita dilindungi tuhan” ucapnya di tengah-tengah perbincangan kami.
Dirumah kontrakannya di Jalan Subur, RT 16 RW 04 No. 63 Kelurahan susukan Mamat tinggal bersama istrinya. Anak satu-satunya telah menikah dan kini tinggal dibanten bersama istrinya. “iya, berdua aja gini, kadang-kadang bengong inget anak. Lama-lama sedih” curhatnya kepada saya di akhir bincang-bincang.
Yupz, itulah sekilas kisah Mamat Gayo yang saya ketahui. Hikmah yang bisa saya petik adalah, kita yang mempunyai fisik sempurna kadang suka malas, dan selalu ingin dibelas kasihani. Berbeda dengan Mamat Gayo, fisiknya yang tidak sempurna, tidak membuatnya untuk bermalas-malasan dan mengharap belas kasihan. Rezeki Tuhan ada dimana-mana, tergantung kita bagaimana mencari dan mengelolanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar